Tuesday, January 2, 2018

Berhenti Sedikit-Sedikit Bilang Baper Ke Orang Lain

Assalamu'alaikum.

"Yaelah, gitu aja marah, baper amat sih jadi orang."

Sekarang ini kita hidup dalam generasi semua serba salah, peduli dibilang caper, perhatian dibilang modus dan yang sekarang ini lagi bikin aku kesel banget adalah "sensitif dibilangnya baper" -__- huft...

Sudah beberapa tahun terakhir kata baper udah jadi kata yang sering banget diungkapkan sama anak-anak muda, termasuk aku juga. Dikit-dikit disebut baper, gak diajak makan, terus ketika jadi bete dibilangnya baper, marah ketika telat balas chat, dibilangnya baper, kan kampret!

Kalo dicari di kamus KBBI mungkin gak akan pernah ketemu definisinya. Baper itu kepanjangan dari bawa perasaan yang biasanya disematkan pada seseorang yang sensitif atau mudah tersinggung ketika menghadapi sesuatu. Yaitu ketika kita menilai orang lain yang menganggap suatu hal serius padahal menurut kita itu biasa aja.

Baca Juga: Tentang Pencitraan dan Sok Alim

Disadari atau nggak setelah muncul kata baper, kita jadi kurang peka dan kurang peduli sama orang lain, jadi gak sensitif gitu ketika kita membuat orang lain gak nyaman. Ada yang gak setuju? silahkaaaan aku bakalan minggir *kasih jalan*.

Setuju atau gak setuju semuanya kembali ke pribadi masing-masing dan aku disini bukan mau memaksakan pendapatku tentang kata 'baper' yang menurutku itu jadi bikin sensitifitas seseorang menurun.

Contohnya ada kisah si Oneng yang gak diajak makan sama temennya, padahal si Oneng denger sendiri ketika temen-temennya itu merencanakan untuk makan bareng, tapi turned out si Oneng gak diajak sama sekali. Ketika si Oneng pundung, alias bete, dengan mudahnya si temennya itu langsung ngecap kalo si Oneng baperan.

Njir, normal kali kalo si Oneng sedih karena merasa being left out, sehingga akhirnya ngungkapin bahwa dia kesel karena gak diajak. Karena bisa aja bagi dia, hal sepele kaya gini, perihal ajak gak diajak makan doang bisa bikin hati remuk #lebay, udah mah sakit hati gak diajak, EH EH EH semudah itu juga mulutmu bilang "Ih gak diajak doang baper." Seriously? Gak dianggap itu menyakitkan broh!

Oh God, I hate these kind of people!

Atau lagi misalnya, ketika ada seorang cowok ataupun cewek yang secara langsung ataupun gak langsung pedekate sama seorang cewek atau sebaliknya, ketika ternyata salah satu dari mereka gak tertarik, atau memang sejak awal gak tertarik tapi terlanjur salah ambil langkah, langsung aja mencari-cari kata "baper" seolah menyalahkan salah satu pihak karena terlalu bawa perasaan.

Ah nggak mau terusin bahas ini ah, suka kontroversi bagi para cewek dan cowok. Kan nanti bias, soalnya aku cewek. Nanti para cowok malah ngamuk!

Pemisalan lain, ketika menyatakan keberatan dari sebuah jokes yang bagi dirinya kurang nyaman dianggap baper, atau ketika menyampaikan emosi kekesalan masih disebut baper, ataupun ketika merasa galau langsung dibilang baperan, merasa tersinggung dianggap mainnya kurang jauh atau kurang piknik. Ih kan ngehe banget, wong perasaan ngana sama situ orang kan beda-beda, ya kan? ya dong? ya laaaaaaaah?

Perasaan orang itu berbeda-beda, namanya juga hati yang punya kemudi.

Ada orang yang biasa saja ketika lekuk tubuhnya atau fisiknya dijadikan bahan bercandaan, gendutlah, atau kerempeng, pendek, hitam, pesek, gigi tonggos, sebut saja semua, tapi dia merasa biasa aja, gak tersinggung malah ketawa cekakakan, sumpah ada loh beneran!!!

Dipanggil 'ndut' 'pesek' gak marah? Hmmm... kalo menurutku sih karena terbiasa aja dipanggil kaya gitu, dalam hati mah sakiiiiiit merintiih, kalo ngaca jadi kurang pede, tapi daripada ribut sama temen jadi akhirnya yasudahlah nrimo wae.

Ada juga orang yang langsung aja merasa tersinggung ketika dibahas mengenai fisiknya, and that's okay. Karena tentu kita gak bisa dong, memasang sebuah standar untuk menentukan mana yang buat hati sakit mana yang wajar-wajar aja. Soalnya gak ada baku emas atau golden standard yang mengatur mengenai hal yang bikin tersinggung atau yang wajar-wajar aja. Tinggal kita aja yang masih mau menghargai orang lain atau nggak?

Contoh lain nih, ada yang biasa saja ketika latar belakang kesukuannya seperti sunda, jawa, betawi dsb dijadikan bahan bercandaan, tapi pasti ada juga yang menganggapnya sebagai hal yang serius dan gak layak untuk dijadikan bahan tertawaan.

Ataupun becandaan tentang job yang terkadang buat orang lain kesyeel tapi ada juga yang merasa fine-fine aja tuh ketika di ledek tentang pekerjaannya. Overall, dalam segi agama juga mengajarkan kalo kita gak boleh saling mengejek sih. Jadi kan ada benernya juga, ya iyalah namanya juga agama, panduan hidup masa ngajarin yang nggak nggak sih rev?!

Atau juga bagi seseorang yang terlalu sensitif ketika memandang sesuatu hal, misalnya menonton film yang sedih dan melow lalu langsung menangis sesenggukan, ketika hatinya mudah tersentuh sehingga mudah untuk menangis. Seseorang X mungkin merasa sedih dan juga langsung menangis, tapi orang Z mungkin merasa itu biasa aja.

Karena seringnya kita gak tau latar belakang kenapa dia mudah menangis? mungkin memang dia orangnya terlalu sensitif, cengeng dan gampang banget terharu, bisa juga ada masa lalu yang sama atau berkaitan dengan kejadian sekarang. Karena itu, ketika bilang "Aelah gitu aja baper!" bisa jadi merupakan sebuah hal yang sensitif  untuk orang tersebut. Jadi pikir-pikir deh kalo bilang baper ke orang lain.

Normal ketika menilai menggunakan perasaan, we're only human.

Namanya manusia, normal ketika menilai menggunakan perasaan. Cuman dua yang bisa kita gunakan, pake akal dan perasaan. Nantinya yang lebih sensitif jadi mudah sakit hati dan yang cuek bisa hidup dengan tenang tanpa memikirkan perasaan orang lain. Ih kok hidup di dunia ini jadi gak adil dong ya?

'Gak akan cocok dong orang yang terlalu sensitif sama yang terlalu cuek, nanti yang satu jadi sering mendem rasa sakit, yang satu mah enjoy aja nikmatin hidup.'

Nggak sih menurutku, semuanya saling mengerti aja. Ketika memang ternyata menyinggung yang lain, ya tinggal minta maaf, jangan jadi cari pelarian sama kata 'baper'. Karena pada akhirnya akan gak adil rasanya ketika kita mengharuskan seseorang untuk menanggapi sesuatu hal sama persis dengan cara yang kita lakukan. Jalan tengahnya ya saling menghargai.

Balik lagi sana ke bangku SD kalo masih gak ngerti cara saling menghargai. Dulu di pelajaran PPKN dibahas mulu sampe mblenger. Kalo sama orang lain itu harus saling menghargai, tenggang rasa, saling peduli. Tuh kan gini-gini gue dulu PPKN nya 90 makanya masih inget *kibas jilbab*.

Not all jokes are funny Dude,.... sometimes it hurtful.

"Ebuset, gue becanda kali. Baperan amat sih!"

(Ini dia nih yang harus jadi pelajaran buat diriku sendiri juga.)

Presepsi orang itu berbeda-beda, sesuatu yang menurut kita lucu terkadang menyakitkan untuk orang lain. Mungkin nih ya, ketika bilang "Gue bercanda doang, baperan amat sih" itu memang beneran bercanda doang, tanpa ada niatan ingin menyakiti hati temen kita.

Namun terkadang bisa saja kita melukai hati seseorang tanpa disadari walaupun maksud hati hanya ingin membuat suasana jadi lebih asik. Tapi itu dia, presepsi orang lain itu berbeda-beda. Jadi ketika lawan bicara kita terlihat kesal, jangan malah bilang baper, simply just say sorry.

Jangan dimasukin ke hati.....Lo kira hati ini mirip pintu gerbang yang bisa dibuka tutup? Bisa diatur mana yang bisa dimasukin ke hati dan mana yang gak usah?!

Gak ada seorang pun yang ingin jadi sosok yang mudah baper, apalagi jadi seseoang yang di cap baperan sama orang di sekelilingnya. Kalo boleh milih, mending jadi orang cuek, biar gak cape hati mikirin apa yang orang lain sebut tentang diri kita. Kalimat:

"Udah deh, makanya jangan dimasukin ke hati."

Lukata semudah membalikan telapak tangan, emangnya iya segampang itu?

Kalo buatku sih, ngomong doang gampang tapi prakteknya susah banget buibu. Dikira hati itu semacam pintu gerbang yang bisa buka tutup? terus kaya pintu gerbang lumbung padi gitu, kita bisa pilih mana yang gak usah bikin sakit hati mana hal serius dan harus ditanggepin. Ya gak bisa semudah itu lah, butuh latihan biar bisa memilih-milih. Mirip jodoh gitu deh, sering susah milih-milih.

(Susah milih milih, atau susah karena emang gak ada pilihan?)

Bahayanya apa sih kalo sedikit sedikit bilang baper ke orang lain?

Bahayanya, kalo sedikit-sedikit disebut baper nantinya kita jadi bebas aja melakukan hal apapun tanpa memedulikan perasaan orang lain. Bisa-bisa sebuah masalah yang sebenernya besar bisa hilang eksistensinya karena dianggap hal yang wajar. Alih-alih introspeksi diri karena sudah menyinggung perasaan orang lain, kita langsung menuduh bahwa lawan bicara kitalah yang lebay dan harus menurunkan sensitifitas perasaannya.

Isu-isu besar kaya pelecehan seksual, ataupun terkait agama bisa jadi dilindungi karena satu kalimat yang membuat semuanya jadi hal yang biasa saja, hal yang wajar.



Baca Juga: Kalimat Andalan Jangan Bilang Siapa-Siapa

Karena satu hal pasti yang gak akan pernah ada panduannya adalah kita gak bisa memasang sebuah standar untuk menentukan mana hal yang boleh dimasukkan ke hati dan mana hal yang wajar-wajar saja. Ataupun mengharuskan semua orang menanggapi sesuatu sama persis dengan cara kita. Karena itu dia, setiap orang itu berbeda, pengasuhan sejak kecilnya pun berbeda, latar belakangnya berbeda, pola pikirnya berbeda, sehingga penilaian terhadap sesuatu pun pastinya akan berbeda. Tinggal kita yang harus belajar untuk menghargai perbedaan tersebut; salah satunya jangan sedikit-sedikit bilang baper.

Karena setelah kata baper ini mucul di era sekarang, seseorang yang merasa marah ataupun kesal akhirnya hanya bisa diam dan memasang senyum palsu karena memilih untuk berbohong pada diri sendiri dan menganggap "sudah biasa ini kok". Daripada dibilang baperan, mending oke aja dengan keadaan.

Ih kan ngeri kalo ada pelecehan seksual terus si korban merasa itu hal yang wajar. Misal abis dicolek gitu aja kaya sabun colek di bagian tubuh yang seharusnya gak disentuh sama temen cowoknya, tapi kalo marah dan ngamuk-ngamuk nanti dicap baper akhirnya memilih diam aja, daripada dibilang baperan sama temen-temennya.

Ini mah level yang tinggi ya, tapi bisa aja loh kejadian di sekitar kita.

Purwokerto
02 Januari 2018
(Ngelusin kaki yang pegelnya bukan main setelah bulak-balik RS Ajibarang-Purwokerto, dih manja, kaya jarak Jakarta-Surabaya aja)

20 comments:

  1. Aku sebenarnya bukan tipe yang baperan sih, bisa dibilang cuek malah, tapi kalo udah nyikut masalah fisik,hmm. Terus malah doi yang bilang "idih apaan cuma bilang gitu doang!" tipe-tipe orang yg kayak gini nih minta disundul gan

    ReplyDelete
  2. Being left out is something yang lebih horor ketimbang film susana! wkwkwk
    anw, dijaman yang serba apatis ini, harus pandai2 jaga hati jaga mulut, salah salah bisa jadi hati yang jadi korban

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mulutmu harimaumu, sekarang juga berlaku jempolmu harimaumu ya kang.

      Delete
  3. nah masalahnya orang sering gunakan perasaannya dan meniggalkan logika shg baperlah jadinya, terutama perempuan ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba tira. Tapi batasannya itu yg kadang kurang jelas, abu-abi hehehe

      Delete
  4. yupp intinya sih harus saling menghargai peran orang lain dalam hidup kita, jangan kebanyakan bilang baper atau apalah itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, entah itu baper atau lebay atau kata lain yg bikin jadi insensitif yah. Makasih loh udah mampir

      Delete
  5. Total banget bahas baper. Hehehe. Jangan baper lho nulis baper. Ya kalau bercanda kira-kira sih. Istila Pkn-nya toleransi bin tenggang rasa.

    ReplyDelete
  6. Lebih bijak bersosmed supaya ga baperan. Lihat IG teman yang pamer makanan, jangan langsung bete ga diajakin. Woles aja sih :D

    ReplyDelete
  7. aku juga masih ngurangin bilang Baper hahahah

    ReplyDelete
  8. SETUJU! Aku pernah baca tulisan sejenis ini (pendapatnya ya maksudnya) dan aku setuju. Oleh karena itu aku jarang ngatain orang baper. Well, sejak awal memang jarang pakai kata itu sih. Semua jenis emosi dibilang baper. Dude, sejak awal "bawa perasaan" kan bukan kata negatif ya? :)) Kalau nggak baper ya robot.

    ReplyDelete
  9. artikel ini menohok sekali hahaha wanita memang cendeung baper ya apalagi kalau PMS.. hihitapi mulai harus dikurang kurangin sih nih

    ReplyDelete
  10. Betul mbak...ya jangan gampang bilang baper gitu ke orang. Hehehe. Kalau keseringan jadi gak lucu bawaannya..

    ReplyDelete
  11. Iya mbak aku kadang juga sebel kalau ada yang bilang dan langsung nge judges "Alah gitu Baper!" "Mbak nya BAPER Banget sih!", padahal bias jadi yang baper itu bukan kita tapi dia yang merasa kita pake perasaan dan akhirnya dia jadi sensitive. Hehehehe. Makanya, paling ga suka kalau ada yang cepet nge judge gitu.

    ReplyDelete
  12. Saya juga baperan nih tapi suka tersinggung kalau disebut baperan hehehe

    ReplyDelete
  13. setuju bangeeeet, masa iya aku puitis dikit dibilang baper, jadi ngerasa sebel sih dikatain baperan. huhu

    www.larasitha.com

    ReplyDelete
  14. Hehe sekarang istilah "baper" emang lagi ngetrend banget ya... Moga gak pernah nyakitin org dengan ngatain baper deh...

    ReplyDelete
  15. Hehe sekarang istilah "baper" emang lagi ngetrend banget ya... Moga gak pernah nyakitin org dengan ngatain baper deh...

    ReplyDelete
  16. Baper wajar dong, namanya saja manusia tentu punya perasaan dong. Yang dikit-dikit biang baper yang tidak punya perasaan, :D

    ReplyDelete
  17. Nulisnya ngak sambil baperan kan mbak hahahha. Kalau saya, kebetulan bukan tipe baperan malah lebih cenderung cuek.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...