Saturday, February 22, 2014

Think Positive: Maaf, Mang Tahu Bulat

Pasti kenal kan sama nasihat ini "Just say no to Negative Thinking, and just Think Positive" 

Hmmm..... kalo boleh dibilang super power, Ini bisa jadi salah satu super power yang selalu aku usahakan untuk aku miliki. Aku selalu berusaha menerapkan nasihat itu di kehidupanku sehari hari. Karena aku gak mau aja menuhin pikiranku sama pikiran-pikiran negatif terhadap orang lain, ya... gak mau ambil pusing cape-cape mikirin buruknya orang lain. Make it simple, just think positive.

Tapi sebagai manusia biasa dan kayaknya be positive bukanlah super power yang beneran aku punya, akhirnya aku kecolongan buat berpikiran negatif sama orang lain.

Karena ternyata berpikiran positif tak bisa semudah itu diterapkan pada setiap orang yang kita temui. contohnya nih, maaf ya.. misalnya liat pengemis yang masih muda dan terlihat sehat, terkadang terbesit aja pikiran negatif waktu kasih uang ke mereka, ataupun juga pengamen. Ada aja pikiran kaya gini  "masih muda, bukannya berkarya malah minta-minta." walaupun pikiran itu langsung ku buang jauh-jauh seketika pikiran itu muncul ke permukaan.

Tapi apa jadinya kalo negative thinking gara-gara ngikutin orang lain? *eh gimana nih maksudnya?

Gini nih, kemarin aku naik bus Purwokerto-Bandung dan seperti biasa saat bus berhenti di tempat istirahat ada penjual asongan yang masuk dan menjajakan dagangannya. Kebetulan juga nih, cacing diperutku belum dikasih makan sejak 7 jam yang lalu. hehe

"Mijon... mijon... akua...akua, yang haus yang haus, tahu bulat, tahu bulat. Tahu bulat lima rebu, dua."
"Mang, tahu bulat satu." pesan seorang ibu, 2 kursi dibelakangku.
"wah bu, tahu bulat mah lima ribu, dua."
"Ih, ari si amang biasa juga 2 dua ribu mang."
"punten, lima ribu dua bu. Dua ribu setengahan (Rp.2500)."
"Aih, amang... dua ribu bisa ya?" Si ibu terdengar masih ngotot.
"Punten pisan bu, lima ribu dua."
"Ya udah gak jadi we lah mang, biasa dua ribuan juga." Terdengar kesal, ibu itu sepertinya langsung mengembalikan bungkusan tahu bulat yang sudah diambilnya tadi.

Hmmm, ini dia tipikal emak-emak. Selisih lima ratus rupiah aja bisa sampe debat tingkat kabupaten, hehe... walaupun begitu, menurutku itu tipe ibu yang baik, jadi bisa irit uang bulanan. Tapi, masa gara-gara doktrin 'jadi ibu harus irit' aku merelakan perutku yang meronta-ronta ini dan seketika menjadi seorang ibu yang selalu aku bayangkan itu.
Tapiiiiiiii..... Tahu bulaaaat loooooh, tahuuu bulaaat... emmmmm kayaknya enak bangeeeet.
Ugh, gimana dooong? dilemaaaa niiih. Aku pengen banget beli tahu bulat.

Tiba-tiba setan membisikanku sesuatu. *Loh, kok jadi bawa-bawa setan sih, hahaha*

"Si ibu yang menolak itu ada benernya juga looh. Masa tahu bulat yang biasanya isi 4 dijual dua ribu rupiah, sekarang malah dijual dua ribu lima ratus, kan satu tahu bulat itu harganya lima ratus. Mentang-mentang udah tengah malem apa ya?" pikiran kotor mulai merambah otakku.

Jahat banget nih amang, kebiasaan deh kalo di bis malam pasti aja bodoh-bodohin penumpang, karena penumpang pasti gak ada pilihan lain selain terpaksa membeli barang dagangannya yang dinaikkan dari harga di luar. Air mineral aja bisa loh sampe dijual Rp. 4000-5000, padahal diluar Rp. 2500 Ugh!!!
Sembari menuggu amang tukang asongan melewati kursiku dan menawarkan jajanannya, akhirnya dengan secepat kilat aku berkata TIDAK.
Sabar ya perutku, *usap-usap perut*

Eh eh.... ternyata oh ternyata pemirsaaaah
Tukang asongan tersebut tua nan renta, kutaksir umurnya sekitar 70an, dan ketika tukang asongan itu beranjak keluar dari bis tanpa mendapatkan uang sepeser pun, kulihat tahu bulat bungkusan yang dijajakan itu berisi 5 buah, bukan 4 buah.

Malunya aku..... harus aku panggil dengan segera! Tapi apalah daya, semua terlambat. Kakinya telah menginjak aspal dingin di malam hari.
Perutku masih lapar
Amang tukang asongan belum bisa menjemput rezeki, ah bukan amang tukang asongan, tapi kakek tukang asongan yang tak kuberikan kesempatan untuk hanya sekedar menunjukkan barang dagangannya agar kubeli.

Seketika aku merenungi tindakan yang sudah aku lakukan barusan.
Sebuah pikiran buruk terhadap orang lain bisa merugikan, mungkin bagi sebagian orang uang lima ribu bukanlah apa-apa. Tapi bagi kakek tersebut, tahu bulat yang dibeli oleh penumpang merupakan rezekinya untuk makan hari esok. Dan aku, aku malah berpikiran buruk tanpa mau dulu melihat. Ini jadi sebuah pelajaran bagiku, agar jangan berpikiran buruk terhadap orang lain, waspada boleh. Tapi itu dia, ada baiknya kita cek terlebih dahulu jangan langsung negative thinking.

Hingga aku turun dari bus, wajah kakek tersebut masih terbayang. Bahkan hingga hari ini, masih kupikirkan. Semoga beliau selalu disehatkan, dagangannya laris, dan selalu dipermudah segala urusannya oleh Allah. Maaf kakek.

Negative thinkers are toxic! Gambar diambil dari sini

Karena gak sempet ambil gambar, kira-kira perawakan kakek tersebut macam ini lah. Gambar Diambl dari sini

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...