Saturday, March 8, 2014

Allah pun Melihat Proses Kita Berhijrah


Beberapa dekade ini, dunia selalu saja dihebohkan oleh banyaknya ajang audisi. Termasuk di Indonesia mulai dari menyanyi, miss world, menari, sampai audisi jadi pelawak pun ada. Tahap audisi yang diadakan dibeberapa kota ini memang udah bikin orang orang lupa diri. Pendaftarnya pun hampir mencapai 25 ribu. Banyak dari manusia zaman sekarang yang ingin sekali tampil dilayar kaca, terkadang saya pun bingung. Banyak diantara mereka bahkan ada yang sudah mengikuti audisi disuatu kota berpindah ke kota berikutnya. Yang bener bener memalukan adalah banyak banget di kalangan peserta audisi yang padahal sama sekali gak punya talenta tapi ngotot ikutan audisi di berbagai tempat.

Konser konser pun hampir tak pernah sepi dibanjiri penonton. Konser konser artis dunia papan atas selalu dihadiri penonton dalam jumlah yang 'amazing'. Mereka yang menonton pun tentunya dong, memberikan pengorbanan yang amat sangat besar. Mulai dari tidur di tempat antrian tiket, hujan hujanan untuk dapet tiket. Dan nanti didalam konser mereka belum tentu bisa melihat dengan jelas artis atau idola yang mereka idolakan.

Pertandingan sepak bola pun tidak ketinggalan memiliki jumlah penonton yang fantastis. Banyak orang berdesak desakan cuman buat duduk, teriak teriak. Belum lagi suporter yang saling adu mulut, dan akhirnya berakhir ricuh di lapangan, maupun diluar lapangan. Kayaknya kalo lagi gitu, yang gak enak yang jadi tukang bersih bersih lapangnya ya...

Disisi lain, tragisnya rumah rumah Allah ditinggal merana sendiri, ditinggalkan umat-umatnya yang mulai sibuk dengan masalah masalah dan kepentingan lain. Kehidupan Islami yang indah bersama Allah sudah tidak menarik lagi, sudah dianggap tidak menguntungkan, sudah dianggap membuang-buang waktu saja. Sepi dari pengunjung pengunjung yang memuji dan mengagungkan Allah. Padahal Allah sudah jelas berjanji jika kita membesarkan Dia dihati kita, Allah pasti akan membesarkan kita di bumi-Nya.

Di zaman yang sekarang ini, lebih banyak hati hati yang tergerak memasuki sebuah pusat perbelanjaan untuk hal yang tak jelas, dibandingkan masjid untuk shalat. Seruan Allah yang sangat indah pun diabaikan. Sama seperti perbincangan saya di waktu yang lalu, Allah sebenernya udah ngasih hidayah, contohnya dari seruan ini. "hayya 'alal falaah" (marilah menuju kemenangan). Namun, sepertinya tidak digubris oleh kita umatnya.

Percaya atau tidak, disadari atau tidak. *sebagai bukti: Lihatlah masjid ketika shalat ashar dan subuh* penghuninya ada dalam hitungan jari termasuk imam. Fenomena ini merupakan bibit tumbuh suburnya kesadaran umat yang sudah berada di level terendah. Umat yang sudah tergoda dengan dunia dan keengganan memenuhi panggilan Sang Pencipta.

Menurut saya, boleh memenuhi kebutuhan akan hiburan seperti menonton bola, dsb. Asalkan tak mengganggu ibadah kita kepada Allah, intinya tidak berlebih-lebihan. karena jika kecintaan kita pada hal tersebut sudah melebihi cinta kita pada Allah, berarti kita menduakan Allah.
Tak ada satu pun cinta di dunia ini yang mampu mematahkan hati manusia jika cinta manusia kepada Allah di atas segalanya. Sungguh, menduakan cinta Allah menjadikan cinta itu berhala.


إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (hendak) menipu Allah, dan Allah membalas tipuan mereka. Bila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (pamer) di hadapan orang lain. Dan tidaklah mereka mengingat Allah (mengerjakan shalat) kecuali sedikit sekali." (QS an-Nisa' [04] : 142).

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآناً أَعْجَمِيّاً لَّقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء وَالَّذِينَ


Bila kita amati kejadian yang sekarang sedang berlangsung, sangat jelas sekali bahwa peradaban umat sekarang ini adalah peradaban yang berakar pada pesta-pora, permainan, lalai dari Allah dan kehidupan akhirat. Musik, mode, media, teknologi canggih, tren gaya hidup, kesemuanya itu merupakan tipu daya untuk menjadikan bumi ini lantai dansa secara global, dengan gemerlap gemerlap lampu disko maksiat.

Di manapun orang akan dipermudah dalam menikmati hal-hal yang non benefit. Misalnya, menikmati foto atau iklan wanita wanita cantik secara gratis. Belum lagi teknologi yang dewasa kini sangat mengedepankan sisi hiburan. Ada hand-phone seri tercanggih, yang disertakan fitur-fitur yang mempermudah penggunanya untuk mengakses hiburan, berpesta dan menyenangkan diri setiap saat.

Saya sendiri sama sekali nggak ngelarang atau kurang suka akan perkembangan teknologi, bahkan sebaliknya saya sangat mendukung kok. Hanya saja tolong, gunakan teknologi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, sarana berdakwah, sarana mengagungkan Allah, karena ciptaannya saja sudah dapat menciptakan hal yang hebat sehingga tak ayal kita tak akan pernah bisa mengetahui seberapa hebatnya Sang pencipta kita yang Agung.

َاذاً فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan, bencana) atau siksa yang pedih." (QS an-Nuur [24] : 63).

Clear, dunia ini dikuasai orang-orang yang tengah diterpa  virus tipu daya dunia.

Sementara, Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita akan bahaya dunia. Percaya dengan hal ini dunia bukan bukanlah terminal atau stasiun akhir kita. Ini adalah rel kehidupan kita. Dan nyatanya, ini kehidupan di dunia bukanlah suatu "titik" namun merupakan suatu tanda "koma" dan akan berlanjut ke alam selanjutnya. Nafas tak berhenti disini bro!

Allah mengingatkan bahwa dunia ini dipenuhi ujian, yakni agar Dia mengetahui siapa di antara kita yang terbaik amalnya (QS al-Mulk [67] : 2).

Ketika di akhirat nanti, bagaimana?

Pada saat itulah dunia ini hanya kumpulan main-main, persaingan kekayaan, pamer perhiasan, tipu daya belaka. Tidak ada makna dan tujuan. Semakin dikejar serasa semakin tak sampai, semakin dimakan semakin terasa lapar.

Dari semua hal ini, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, sebaik mungkin. Jika kita menjaga aturan-aturan Allah, maka kita akan mendapati-Nya berada "di depan kita", membimbing dan merintis jalan. Bila kita selalu "memperkenalkan diri" kepada Allah saat kita senang dan lapang, maka Dia pun akan mengenali kita pada saat terjepit dan kesusahan. Bagaimanapun juga, tidak ada perilaku yang menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya melainkan ancaman Allah segera datang.

Saya pun bukanlah orang yang baik, tapi saya berusaha menjadi baik. Saya pun bukan orang yang tak pernah berbuat salah dan dosa, tapi saya berusaha menyelipkan sebuah taubatan-taubatan kecil setiap hari. Saya bukan orang baik, maka dari itu saya ingin menjadi baik. Mari mulai sekarang kita berubah, berhijrah, dari prilaku yang sebelumnya Allah tak sukai ke prilaku yang Allah sukai, dari tempat yang sebelumnya Allah tak sukai ke tempat yang Allah sukai, dari pakaian yang Allah murkai ke pakaian yang Allah cintai. Berubahlah menjadi lebih baik, walaupun sambil merangkak, walaupun hanya sejengkal, walaupun hanya sebutir embun. Berubahlah secara perlahan bila belum mampu sekaligus. Semuanya butuh proses, mari berproses menjadi lebih baik setiap harinya. Dan rasakan Allah pun melihat proses kita berhijrah.

Dan mari teriakan dalam hati-hati kita
"Aku Cinta Engkau Ya Allah, Sungguh Cinta, dan Aku Rindu Pada Kekasihmu Rasulullah Muhammad SAW"

Wallahu a'lam bishshawab


(Terinspirasi dari kalian 'Keluarga Hypoglossus' yang berhijrah menjadi lebih baik)
Respi, 2014

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...