Thursday, September 7, 2017

Saat Berada Pada Titik Terendah Dalam Kehidupan


Assalamu'alaikum.

Tahun 2012 silam, aku mengambil sebuah keputusan paling berat dalam hidupku. Aku membatalkan sebuah cita-cita yang aku mimpikan sejak dulu. Postingan kali ini akan cukup panjang, mengulas kembali secuplik kisah hidup yang aku alami beberapa tahun kebelakang dan merupakan titik balik kehidupan yang aku alami selama 22 tahun ini.


Setiap orang pasti pernah merasa berada di titik terendah, baik itu karena terkena musibah kehilangan harta benda, kehilangan orang tua, kehilangan suami, bercerai, bahkan kehilangan anak tercinta. Bagiku, titik terendah dalam hidup yang aku alami adalah ketika mama mendadak masuk rumah sakit, dan setelah itu kehidupanku berubah.

Aku mohon siapapun yang pernah berada di titik terendah sebagai makhluk, merasa bahwa dunia tidak adil, bahwa Tuhan memberikan cobaan terlalu berat, dan rasanya ingin pergi dari kehidupan ini, luangkanlah waktunya 5-10 menit, berhenti sejenak 'disini' dan mari saling berbagi kisah.

*** 

Kakiku melangkah dengan pasti menuju satu tempat, dinginnya malam sama sekali tak mengurungkan niatku untuk terus berjalan menuju salah satu sumber air. Sesekali dada ini bergemuruh mengingat-ingat kejadian yang baru saja aku alami hari ini.

Krek, kran air aku buka perlahan, diikuti suara gemericik air yang nyaring untuk tahajudku malam ini. Mata yang terkadang sedikit terpejam karena melawan rasa kantuk seketika terbelalak ketika diguyur oleh air sedingin es. Ah, segarnya air pegunungan membilas sisa-sisa kantukku semalam tadi. Mataku kini kembali terpusat pada sebuah pintu masuk masjid RSUD Syamsudin Kota Sukabumi.

Tepatnya bulan Agustus tahun 2011 lalu, sudah satu hari aku menjaga mama yang masuk ke rumah sakit. Dokter mendiagnosa mama terkena stroke non hemoragik, atau stroke sumbatan. Dulu, aku sama sekali tak tahu apa artinya, tak tahu stroke ini akan memberikan dampak seperti apa pada mama. Yang aku ingat hanyalah, saat mama di rumah sakit, mama sudah tidak bisa berjalan dengan baik; tubuh sebelah kiri mama lumpuh.

Lekat sekali kuingat ketika seorang pria paruh baya disampingku melirikkan matanya dengan serta merta mengernyitkan dahi padaku saat aku 'melap' air ludah mama yang terus mengalir tak terasa, katanya saraf dilidahnya sudah rusak, sudah tidak bisa berfungsi dengan normal. Ingin sekali bilang "Apa lu liat-liat?" tapi ah sudahlah, aku hanya kembali mengamati wajah mama lekat-lekat, tak ingin melepaskan pandangan dari wajah mama yang semakin kesini semakin tampak keriputnya. Ada rasa malu, namun apa artinya rasa malu, biarlah orang lain menjadi penonton dan memberikan komentar sesukanya.

Karena saat itu aku sibuk, aku masih sibuk dengan perasaan kaget, masih gak menyangka mama masuk rumah sakit dan gak bisa berjalan lagi. Masih shock; bagaimana tidak? sehari sebelumnya, mama baik-baik saja, bahkan beberapa minggu yang lalu Ia sempat pergi keluar kota dan camping di pegunungan. Mama juga sehat-sehat aja, lagi pula mama juga jarang sekali sakit, jarang pusing, jarang demam, jarang batu-pilek, mama juga bukan orang yang malas olahraga, mama malah sering jalan kaki ke tempat kerja yang berjarak 2-3km, mama sering makan sayur, pokoknya mama selalu sehat, lalu kenapa tiba-tiba sekarang jadi seperti ini? Kaki dan lengan kiri gak bisa digerakkan, bibirnya merot, dan aku hanya bisa menahan tangis.

Gusti Allah, Padahal minggu depan sudah penghujung ramadhan.

Biasanya mama sudah sibuk memasak untuk hari raya Idul Fitri, buat kue kering, masak rendang, masak opor, masak semur, buat ketupat, lalu kita saling berbagi dengan tetangga sekitar rumah. But the reality hit me so bad, aku terjebak di rumah sakit melihat kondisi mama yang sangat aku cintai tak berdaya, bahkan untuk buang air kecil pun harus dibantu. Aku belum siap menerima ini, tak ada yang siap menerima ini, keluarga kecil kami tidak siap menerima ini.

(Saat ini aku masih dalam fase denial.)

Kuhamparkan sajadah panjang pemberikan mbah utiku, tidak ada siapa-siapa di masjid, hanya kakek tua berbaju abu kusam lengkap dengan bekas tambalan di kerahnya tertidur pulas di pojokkan kanan masjid. Segera kupakai mukena putih bermotifkan bunga anggrek merah muda. Disitu aku terduduk dan terdiam, ingatan membawaku pada kejadian-kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu.

Teringat perkataan sesosok lelaki yang biasa mengisi kajian setiap hari rabu untuk siswa sekolah di salah satu masjid Kota Sukabumi. Gusti Allah akan menguji hambanya, untuk mengetahui siapa yang lebih baik amalannya. Tuturnya,

"Seperti ujian naik kelas, tidak ada seorang murid yang bisa naik kelas bila belum lulus ujian, begitupun seorang hamba, tak bisa hamba tersebut naik derajatnya bila tak melewati ujian yang Allah berikan. Tapi perhatikanlah, pernah gak anak SD dikasih soal ujian anak SMA? gak ada aturannya kaya gitu, sekolah dan guru akan berlaku adil dengan memberikan ujian yang sesuai dengan kemampuan muridnya. Yakin gak kalo Allah pasti maha adil juga, bahkan lebih adil dibandingkan seorang guru? Allah pun pasti memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hambanya untuk naik kelas, dan jangan pernah bandingkan ujian satu hamba dengan yang lain, karena tingkatan ujiannya pasti berbeda pula."

Tapi, jika memang ini ujian yang Allah berikan untukku, untuk mengajarkanku dewasa, mengajarkanku agar lebih dekat dengan-Nya, mengajarkanku agar lebih berbakti kepada orang tua; dengan memberikan penyakit pada mama? sungguh ini ujian yang sama sekali tidak aku persiapkan, ini ujian yang berat Gusti. Bolehkah jika aku memilih ujianku sendiri? Jangan dijawab, aku tahu jawabannya, tentu saja tidak boleh, lagipula tidak bisa. 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Aku tahu, dan aku sadari bahwa apapun yang diberikan, maupun yang diambil oleh Allah adalah sesuatu yang 'pas' buat aku, bukan pas menurut aku. Tapi apakah dengan Kau ambil nikmat berjalan dari mama menjadi hal yang baik untukku? Bantu aku mengerti, karena hingga sekarang aku masih belum memahaminya. Saat ini, aku mulai marah pada Tuhan, mulai merasa diperlakukan tidak adil dan terus saja meminta penjelasan. Walaupun tak kunjung mendapatkan jawaban.

Detik di jam besar 5 meter tepat didepanku terus berjalan, mengabaikanku ketika kuteriaki untuk berhenti. Aku ingin menikmati waktu, bertanya pada Gusti Allah, bertanya mengapa ini terjadi pada keluarga kami? bercerita tentang keluh kesahku. Selanjutnya, kubiarkan diriku terhanyut dalam sajadah panjang hingga adzan subuh membangunkanku.

***

Sudah satu minggu mama dirawat di rumah sakit, dan belum ada perkembangan yang berarti, mama masih tidak bisa berjalan.

Oh ya, hari ini hari raya Idul Fitri di tahun 2011. Hari dimana semua keluarga berkumpul, menunaikan ibadah shalat Ied, kemudian saling bersilaturahim bermaaf-maafan. Tapi kini aku terduduk disamping bed rumah sakit, menyuapi mama dengan bubur dan sayur bayam sambil sesekali memasang pisvot ketika mama ingin buang air kecil dan buang air besar.

Beginikah ketika mama merawatku dahulu? mengganti popok, menyapihku, menyuapiku, mengajarkan aku berjalan, bahkan tak segan-segan sering memegang kotoranku yang bau dan menjijikan. Jujur, awalnya ada perasaan jijik, tapi akhirnya kuabaikan, aku terlalu sayang Mama.

Satu minggu menjadi dua minggu, dua minggu berubah menjadi satu bulan, satu bulan pun berlalu, tiga bulan berlalu, enam bulan berlalu, hingga genap sepuluh bulan berlalu aku masih melakukan rutinitas membantu mengurusi mama seperti hari-hari sebelumnya bergantian bersama dengan nemok, papa dan adekku. Kerabat, sanak saudara datang silih berganti menjenguk mama, kami membuka pintu rumah dengan lapang untuk siapapun yang datang, untuk sekedar memberikan doa serta support untuk mama. Agar mama semangat, agar mau latihan berjalan lagi.

Namanya depresi pasca stroke, jadi seorang yang terkena stroke disaat awal bisa mengalami depresi, mulai dari ringan hingga berat. Mama mengalaminya, saat itu mama seperti tidak punya harapan lagi, mama juga dikucilkan oleh teman-teman kerjanya, tidak semua, tapi ada beberapa yang memojokkan mama saat dia sakit, itu semakin membuatnya depresi dan tertekan.

Mama yang biasa pergi kemana-mana, biasa jalan-jalan, biasa mandiri, saat ini harus dibantu semuanya oleh orang lain. Aku tau mama merasa tidak nyaman karena orang lain harus selalu membantunya, untuk mandi, makan, wudhu, ganti pakaian, karena mama nggak biasa dibantu, mama adalah seorang ibu yang mandiri dan independen, jadi aku paham sekali jika mama kadang menjadi sangat sensitif. Saat itu, aku hanya bisa memberikan support untuk mama, sambil sesekali pergi ke kamar karena sudah tak kuat menahan tangis, tak kuat menahan rasa kesal dan sedih, aku luapkan semua air mata di dalam kamar.

Harapanku akan kesembuhan mama tak pernah pudar, begitu pun doa yang selalu kupanjatkan. Keadaan mama masih sama seperti saat beliau keluar dari rumah sakit, terapi tetap berjalan, obat pun masih diminum, tapi Allah punya rencana lain, Allah belum mengaruniakan kesembuhan.

Kini bulan berganti tahun, perasaan bosan sudah mulai menggelayuti hatiku. Mungkin aku lelah, kadang aku malu, kadang aku marah, seringnya aku iri dengan teman-teman sebayaku yang masih memiliki mama yang sehat dan bisa mengantarnya pergi kemanapun, yang masih bisa bersenda gurau di tempat makan, bisa mengaji bersama, bisa liburan bersama, bisa ini dan itu. Padahal dulu sebelum sakit, mama gak pernah lupa menjemputku pulang les, mama gak pernah lupa ajak aku makan sate padang di pinggiran mall, mama gak pernah lupa ajak aku makan sekoteng didepan gedung les. Kemana-mana selalu diantar mama, setiap pulang les selalu dijemput mama.

Saat itu aku masih SMA, mungkin ini adalah hal yang sangat konyol. Tapi hal yang membuatku iri saat itu bukanlah baju kebaya dan dandanan cantik ketika perpisahan sekolah digelar, bukan pacar tinggi putih ganteng yang bisa diajak foto untuk buku angkatan, bukan gadget canggih dan kamera moncong panjang yang bisa dipamerkan setiap berpose, bukan mobil mewah yang teman-temanku gunakan, tapi hanya melihat temanku diantar ibunya ke acara perpisahan sekolah membuatku sakit bukan main.

Sungguh sudah terlalu lama, terlalu lama mama lumpuh, terlalu lama tangannya tak bisa digerakkan. Aku juga sudah tak kuat dan tak tega setiap melihat mama yang selalu kesulitan hanya untuk buang air kecil, atau hanya sekedar untuk memakai baju. Pukulan ini masih terasa amat nyeri, tak bisakah Engkau hentikan sakitnya? tak bisakah Engkau hapuskan deritanya? Tapi kumohon jangan Engkau ambil Mama dariku.

Dalam five stage of grief, disinilah aku mulai merasa depresi, tak tau harus berbuat apa, sudah tak ingin marah, rasa kesalku juga sudah hilang, sudah tak ingin bertanya-tanya karena sudah lelah. Setiap merasakan sakit, aku hanya berlari mencari ruang kosong dan melampiaskan semua tangis disitu.
***

Ingat, tentang aku yang membatalkan cita-citaku? Duduklah yang manis, sini aku ceritakan....... kalau butuh teh atau kopi silahkan buat dulu, karena kisah ini masih agak panjang.

Dulu, aku berencana akan kuliah di Jerman, uang pendaftaran sudah dibayarkan, aku tinggal mengikuti alur untuk selanjutnya pergi ke negeri dimana mantan Presiden hebat kita, Pak Habibie melanjutkan sekolahnya. Ini sudah jadi impian keluarga kecil kami sejak dulu, agar anaknya ada yang kuliah di luar negeri.

Aku sudah mengurusi semua berkas yang harus aku bawa disana, sudah memulai belajar bahasa Jerman walaupun dengan tertatih-tatih. Sudah mencari-cari tetangga mama dan saudara yang tinggal disana, sudah menghubungi kakak kelasku yang juga sedang sekolah disana. Ah, kalo diingat-ingat, rasanya selangkah lagi aku meraih mimpi kuliah di negeri orang.

Tapi, disitulah kehendak Allah berkata lain, kuliah di Jerman yang selama ini sudah direncanakan dengan matang akhirnya kandas. Eh, tapi bukan karena mama sakit loh.

Saat itu, pengumuman SNMPTN Undangan dibuka, dan aku diterima di kedokteran UNSOED (Universitas Jenderal Soedirman) aku semakin bimbang dan ragu. Keluarga kecilku sama sekali tidak melarangku untuk tetap kuliah di Jerman, semua masih tetap mendukungku untuk pergi walaupun dengan kondisi mama yang seperti saat itu, membutuhkan aku untuk tetap di rumah.

Mama juga sama sekali gak melarangku untuk sekolah jauh-jauh, karena mama gak mau mengalangi cita-citaku. Aku tau mama adalah sosok yang kuat, jadi mama tak mungkin menahanku untuk pergi, dan mama mengijinkan pergi dengan satu syarat. Syarat itu adalah, jika aku kuliah di Jerman, aku gak boleh pulang ke Indonesia sebelum aku lulus. 

Itu adalah hal yang membuatku ragu untuk tetap pergi, bayang-bayang mama mengurusi dirinya, dan aku yang harus pergi 5-6 tahun, tanpa bisa bertatapan langsung dengan mama membuatku ketakutan, apalagi dengan kondisi seperti saat ini, banyak pikiran buruk yang berseliweran, khususnya ketika membayangkan kehilangan mama. Ah menuliskan ini aja aku sudah tak kuasa menahan air mata, cemen, karena kehilangan mama adalah ketakutan hidup yang tak pernah ingin aku bayangkan. Akhirnya aku memutuskan untuk batal kuliah di Jerman. Ya; batal, bukan karena siapa-siapa, karena keinginanku sendiri. Aku tak mau membayangkan kehilangan mama, dan aku gak ada disampingnya.

***

Segala puji hanya bagi Allah, akhirnya mama mulai bisa berjalan sedikit-sedikit, semangat mama mulai muncul kembali, kaki kanannya mulai bisa diangkat, kaki kirinya hanya berusaha mengikuti sambil terseok-seok, tapi Allah maha baik, bagi keluarga kami ini adalah anugrah yang luar biasa. Hatur nuhun Gusti Allah, mama memang belum bisa berjalan seperti semula, tangannya juga masih terkulai lemas. Tapi ini adalah perkembangan yang luar biasa, karena kerja keras mama, dan semangatnya mama bisa bangkit kembali untuk berjalan, sedikit-sedikit namun pasti.
saat itu teteh bangga sekali mah.

Terkadang aku berpikir, sungguh sangat mudah bagi Allah untuk mencabut nyawa seseorang, apalagi hanya mencabut nikmat kaki dan tangan seseorang, 'kun' maka jadilah.

Tentu aku akan selalu bersyukur karena Gusti Allah masih memberikanku kesempatan untuk menatap mama secara langsung, untuk dapat merawat mama dengan kasih, walaupun aku kadang malas-malasan. Mungkin ini cara Allah untuk membuatku dekat dengan-Nya, untuk terus bersyukur, untuk terus meminta pintu-pintu pertaubatan. Karena ini juga merupakan titik balik aku berhijrah.

Sekarang, aku hanya ingin menjadi hamba-Mu yang bila memeroleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah, ia memuji Allah dan bersabar. Biarlah bumi ini dan takdir-Nya berputar menurut kehendak Allah. Segala yang sudah ditakdirkan, suka tidak suka, terima tidak terima, pasti terjadi.

Paragraf diatas terdengar terlalu klise.

Mudah memang jika hanya dituliskan lewat kata-kata, karena pada kenyataannya, untuk bersabar dengan tingkatan seperti diatas, bagiku masih sangat sulit. Hey, aku bukanlah manusia sempurna dengan tingkat keimanan tinggi seperti Nabi-Nabi terdahulu, aku tidak bisa berjanji untuk tidak mengeluh, gak bisa janji untuk terus bersabar menghadapi ujian, untuk tidak kesal atau berjanji untuk tidak marah pada keadaan, tapi setidaknya ketika aku mengeluh aku beristigfar, dan ketika aku mengeluh lagi aku mengulang taubat dan beristigfar kembali.

***

Enam tahun sudah berlalu, kini aku kembali dengan sajadah hijauku di kota perantauan Purwokerto, untuk kesekian kalinya memohon ampunan dan memohon kesembuhan untuk mama. Malam ini, masih sama seperti malam kemarin, kuteruskan ikhtiarku, kulanjutkan doaku dan aku tak akan berhenti. Mukena putih masih jadi teman setiaku untuk terus mencari-Nya disetiap sujud malamku, menikmati setiap indahnya bulir air mata pertaubatan.

Ya Allah, tahukah Engkau bahwa malam ini hamba sangat merindukanMu, sangat ingin berbicara denganMu, hanya ingin berdua saja denganMu. Mungkin ini doa yang selalu hamba ucapkan, untuk memohon ampunan dariMu dan ampunan untuk kedua orang tua, serta meminta kesembuhan untuk mama. Kumohon janganlah Engkau bosan mendengarkan apa saja yang hamba pinta, hamba sangat menginginkan Engkau mendengarkan apa saja yang hamba alami di bumi milikMu.
Ya Allah, hamba terima ujian ini dan hamba kembalikan semua kepadaMu karena Engkaulah pemilik segala jalan keluar. Maafkan hamba yang selalu menafsirkan seolah semua derita adalah hukuman, seolah kasihMu seperti perhitungan untung tak untung. KuperlakukanMu seperti mitra dagang bukan kekasih, maafkan hamba yang selalu meminta Engkau membalas ‘ibadahku’ dan menolak hal buruk yang Engkau berikan yang tak sesuai dengan keinginanku.

Aku tau, banyak orang bilang berdoa itu jangan media sosial, jangan di status, jangan di twitter, tapi yang aku tau adalah, sejak 7 tahun yang lalu aku tak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan mama, dan kali ini aku ingin terus berdoa, dan ingin berdoa disini, agar kalian yang membaca juga turut mendoakan, cukup hanya itu

***

Diantara kalian semua, mungkin saat ini sudah kehilangan ibu, kehilangan ayah, bahkan kehilangan keduanya, tetaplah berdoa untuk mereka, karena hanya doa yang bisa meringankan mereka di akhirat. Dan bagi yang masih memiliki ibu dan ayah, yuk, saat ini juga ambil handphonenya, telepon mereka, sms mereka, sekarang jaman udah modern, videocall lah sama mereka. Bilang terima kasih karena selama ini sudah mengurus kita sejak kecil, bahkan sejak masih dalam kandungan, bilang kalo kita sayang ibu dan ayah, ummi dan abi, mama dan papa, amma dan abah. Bilang kalo mereka berarti buat hidup kita. Kalo sudah, coba share apa yang kalian rasakan. Semoga ini membuat hati semakin adem.


Setiap orang pernah berada di titik terendah dan punya kisah sendiri untuk bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik. Sekarang, di tahun 2017 ini aku sudah melewati titik terendah dalam kehidupanku, sudah melewati semua fase penerimaan bad news mulai dari denial, anger, bargaining, depression dan akhirnya acceptance hingga aku menjadi pribadi seperti sekarang ini, Alhamdulillah aku bersyukur atas apa yang Allah karuniakan untukku.

Aku merasa mungkin inilah bahasa cinta dari Allah, menempatkanku di titik terendah sebagai makhluk. Allah berikan aku dan keluargaku ujian dengan bahasa yang tidak aku mengerti, agar kami sekeluarga tau bahwa kami memang harus selalu mendekatkan diri pada-Mu, dan agar kami mengetahui bahwa kami tidak bertepuk sebelah tangan atas cinta ini.

Purwokerto,
07 September 2017

Silahkan di share apabila merasa ini bermanfaat. :)

Ma, maafkan teteh yang selama ini kurang berbakti, belum bisa buat mama bangga, teteh sayang banget sama mama, mama selalu mengajarkan teteh bahwa hidup gak selamanya semulus jalan tol, sering ada rintangan yang menghadang. Mama juga mengajarkan bagaimana menghadapi setiap ujian yang Allah berikan dengan sabar, tetap semangat dan jangan putus asa. Karena mama pun bisa bangkit dari stroke, mama bisa semangat lagi menebar kebaikan setelah jatuh sakit. Teteh selalu bangga punya ibu kaya mama.
dan ketakutan hidup yang selalu tak ingin teteh bayangkan adalah kehilangan mama.

16 comments:

  1. MemperlakukanNya sebagai kekasih, bukan mitra dagang (Y) Makasi udah menyadarkan Teh :) Selamat sudah melewati tembok besar itu Teh :)

    ReplyDelete
  2. bacanya kayak sambil ngupas bawang, air mata becucuran :'( Alhamdulillah ya teteh akhirnya bisa melewati ujian tersebut dan menjadi lebih baik lagi, tetap istiqomah ya teh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Alhamdulillah, aamiin hatur nuhun doanya :)

      Delete
  3. ah , memang perjunagan dalam hidup perlu dan doa terus menerus , dan yakin badai akan terlewati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa melewati badai badai selanjutnya.

      Delete
  4. Seandainya saya ada di tahun2 itu kenal Revi pengen sekali pukpuk Revi, kamu itu baek sekali. Allah lebih tahu Revi gak perlu ke Jerman. Tetap menjadi baik ya Revi, terimakasih juga tulisannya nyaman buat hati saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaaaak peluk buat mba bulir jeruk hihihi :D

      Delete
  5. iya mba...semuanya bahasa cinta dari Allah...
    kadang kita tidak menyadarinya hingga kita sampai di titik tersebut

    ReplyDelete
  6. Bahasa cinta Allah memang bagai misteri yang jika kita yakini itu adalah cara-Nya untuk mencintai kita...Semangat ya Teh Revi:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba dian, harus semangaat yah. Makasih udah mampir :)

      Delete
  7. semoga selalu kuat mbak dan mamanya bisa makin membaik.. amin

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...