Saturday, May 21, 2016

Sudah Saatnya Aku Bertingkah Dewasa


Jarang sekali aku mengisi postingan blog dengan hal-hal yang serius, adapun hal tersebut serius aku malah ngoceh gak jelas sambil kadang ocehannya terbang kemana-mana ngalor-ngidul gak tau arah dan tujuan. Tapi kali ini, setelah obrolan panjang tadi malam bersama papaku, aku tiba-tiba ingin menuliskan hal yang selama ini aku hindari.


Sudah waktunya aku dewasa, jika harus memilih, aku tak ingin menjadi orang dewasa yang akan mengemban banyak tanggung jawab. Mungkin menjadi anak kecil kesayangan mama papa merupakan hal terindah yang pernah terlewati, sehingga sejak dulu aku tak pernah menunggu masa dewasa akan datang, secepat ini. Berlama-lama dengan masa kecil memang bukan hal yang dapat diwujudkan, karena sejatinya kita tak bisa memodifikasi waktu. Satu detik akan berjalan selama satu detik, begitupun dengan satu menit, tak bisa dipercepat ataupun diperlambat.

Mungkin ini saatnya aku mensyukuri masa kecilku, dan mengakui bahwa sekarang aku telah dewasa dan seyogyanya bertingkah seperti orang dewasa. Walaupun di rumah, belum sepenuhnya bertindak dewasa dengan dalih 'di rumah kan saatnya manja-manja'. Tapi dalih tersebut harus aku tepis jauh-jauh, mamaku, papaku terkadang masih memanjakanku. Aku yang pengen disuapin lah, pengen dibuatin bubur sumsum lah, pengen ini pengen itu, padahal aku udah 21 tahun loh, disaat banyak teman sebayaku sudah menimang dedek bayinya. Well, bagaimanapun itulah orang tua. Sudah menjadi nalurinya untuk menyayangi anak-anaknya, apalagi aku yang pulang 6 bulan sekali. Tapi kini, bukan saatnya lagi aku memanfaatkan hal tersebut. (kalo kadang-kadang sih masih boleh kali yak? *nawar.)

Dalam percakapan menjelang tengah malam bersama papa memang tidak mengulas tentang aku yang beranjak dewasa, kami malah membahas pengalaman-pengalaman angker yang pernah dialami, dan papa bercerita tentang teman-temannya yang dulu sering membantunya, terakhir papa bercerita tentang salah satu bisnis teman dekatnya. Padahal dulu papa gak pernah loh cerita tentang hal-hal yang diceritakan tadi malam, mungkin karena kini aku udah gede jadi kita berasa bercerita teman-antar teman.

Dari situlah aku berpikir bahwa kini aku sudah tua, bukan lagi saatnya bermain diatas punggung papa sambil ketawa ketiwi, tapi sekarang papa senangnya ngajak ngobrol bareng, kadang sampe lewat tengah malam. Mungkin itu dia, papa sudah menganggapku dewasa. Hanya aku saja yang berniat untuk bertingkah dewasa, dan ujungnya hanya berakhir menjadi sebuah wacana.

Saat ini aku harus sudah memikirkan tabungan masa muda, bagaimana kondisi finansialku untuk keluarga yang akan aku bangun kelak, apa bisnis yang akan aku tekuni dengan serius dan banyak hal lain yang berkecamuk di dalam pikiranku. Sudah saatnya aku bertingkah dewasa, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, aku harus beranjak pergi dari sangkar yang selama ini membuatku nyaman.

Teringat dengan seorang adik kelasku yang sebenarnya dulu tak pernah kenal dekat, hanya tau kalo dia adik kelasku. Alfian Pamungkas Sakawiguna yang akrab disapa Alfian hanya selisih satu tahun denganku, kini dia menjadi CEO IDCloudHost dengan penghasilan yang luar biasa untuk usia yang tak lebih dari 2 dekade. Malu? jelas malu, dengan usiaku yang lebih tua aku belum bisa menghasilkan apa-apa. Bukan berarti segalanya dinilai dari uang ya, tapi ini salah satu contoh pencapaian seseorang yang dekat usianya denganku, namun sudah memiliki pencapaian yang luar biasa.

Sering sekali terpikir, usia sudah menginjak 20 keatas tapi belum punya kondisi finansial yang memadai. Punya cita-cita membahagiakan orang tua dan orang sekitar yang kita sayang, tapi belum bisa kita capai. Pernah merasa demikian? Sama akupun merasakannya, sekarang ini.

Perjalanan pendidikanku masih panjang, dan aku masih saja mengandalkan orang tua, dengan mengandalkan suntikan beasiswa dimana-mana aku masih kok menengadahkan tangan sama orang tua. Huhuhu sedih ih, tapi rev! setidaknya untuk saat ini bertingkah dewasa lah didepan mereka, dengan cara membantu, bisa dilakukan dengan hal-hal yang kecil mulai dari gantiin mama memasak, bantu beres-beres rumah, pijitin mama-papa kalo pulang kerja, disuruh langsung nurut tanpa bilang 'bentar', mungkin ini hal-hal kecil tapi gratis yang bisa dilakukan untuk menyenangkan mereka.

Dewasa itu bukan ketika usia semakin bertambah hingga akhirnya dipanggil orang tua, dewasa juga bukan ketika kamu bisa menghasilkan uang sendiri dan memiliki segalanya, bukan juga ketika sudah menikah dan memiliki anak, tapi dewasa itu ketika kamu dapat menyelesaikan masalahmu sendiri dan tidak mengeluh dan memberikan orang lain beban atas masalah yang sedang kamu hadapi, dewasa itu ketika kamu dapat membagikan senyum kepada dirimu sendiri maupun orang lain disaat hidupmu penuh dengan berbagai masalah. Dewasa itu memahami orang lain sebelum menuntut untuk dipahami.

21 Mei 2016
Menyerap segala positivism dari manapun sumbernya

4 comments:

  1. Nasehat papamu sangat benar. Hormat saya untuk beliau.

    ReplyDelete
  2. Amiin Allahumma amiin, dengan meniatkan ini dan berusaha mendefinisikan dewasa, dari segi pikiran kau sudah dewasa Revi :(
    Wow, itu ade kelas keren juga ya.
    InsyaAllah Revi keren juga kok.
    btw, tugas dimana bu dokter?

    ReplyDelete
    Replies
    1. koas di RS Margono Soekarjo Purwokerto mbak :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...