Friday, September 19, 2014

Andai Hatiku Setegar Aku

Apa mungkin tawa di gigi busukku menutupinya? Atau bahkan matamu yang buta, kau tidak mengidap katarak kan? Hatimu mingkin iya.

Alih alih, aku menyalahkan hatiku. Dia yang memulai semua ini, tapi mengapa harus aku yang susah payah mengakhirinya. Andai percakapan itu tak pernah terjadi, andai kau dulu tidak berada 30cm tepat di dekatku, andai aku bisa mencuri waktu Tuhan saat itu dan kabur dengan serta merta berteriak AKU TAK MAU.

Sekarang aku menangis. Kebingungan menafsirkan hatiku sendiri, Tuhan, bisa Engkau perbaiki hati ini? Atau kuberi penawaran agar Engkau ganti saja hatiku dengan yang baru! Agar asa tentang dia hilang. Bukan aku tak bersyukur, tapi hati ini tak tau diri. Dia mencintai tanpa seijinku, dia tertawa tanpa seijinku, dia tersipu malu tanpa seijinku tapi tangisnya, dia luapkan kepadaku.

Jelas aku tak mau disalahkan atas apa yang terjadi, bukan aku yang merasakan cinta. Aku hanya merasakan luka.


Sela-sela bising
Ahas, purwokerto.

2 comments:

  1. adik jangan galaaaaaau hahaha May Allah always beside youuu! Just forget about him hihihi

    ReplyDelete
  2. Aduh ada mbak ais. Hehe iya mbak. sebenernya itu cuplilkan dari cerita mbak. hehe

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...