Saturday, May 3, 2014

Could It Be Love?

Postingan kali ini sebenernya kgak terlalu penting, hanya curhat atau apapunlah ini disebut.

Saya selalu menghindari pertanyaan yang berhubungan soal hati, kenapa? hmmm... sebenarnya gak ada alasan khusus. Saya memang kurang berpengalaman, bukan, kurang lagi, memang sama sekali belum berpengalaman, dan saya juga nggak berniat untuk menjadikan pengalaman itu nyata dekat-dekat ini.

Tapi, kalo ditanya soal cinta. Setelah saya menghindar, dan akhirnya harus ber-statement, saya selalu bilang. Cinta itu ya klasiknya anugerah, fitrah yang di kasih Allah secara gratis buat kita. Ingat, cinta gak selalu dikaitkan dengan pasangan lawan jenis saja ya, bisa cinta sama Allah, Rasul, Al-Qur'an, orang tua,  hewan peliharaan, bahkan tanaman di pekarangan rumah. Nah, khususnya cinta untuk lawan jenis bagi saya seorang akhwat, saya selalu mendefinisikan itu adalah anugerah yang Allah berikan, dan tugas bagi kita yang belum siap menghadapi jenjang pelaminan, hanya menikmati anugerah itu.
Merasakan, TANPA mengumbarnya, entah itu secara langsung ke si akhi, ataupun lewat media sosial.

Tenang... tenang.... Jangan dulu esmosi yaaaa, ini kan pendapat saya. Karena bagi saya, cinta itu sesuatu yang spesial, dan harus dinyatakan lewat sarana yang spesial juga. Saya nggak mau cinta saya murahan yang bisa saya umbar-umbar pesonanya tanpa sebeulmnya ada ikatan yang halal.

Saya juga pernah merasakan cinta, ah... entah itu cinta atau risalah hati semata, yang jelas apa-apa yang orang di televisi bilang itu salah tingkah ketika ada si "dia" saya pernah merasakannya. Ini hanya terjemahan hati saya sendiri tanpa melihat kamus yang sebenarnya. Entah itu cinta ataupun bukan.

Saya hanya menyatukan semua yang saya rasa, apa saya dengar, dan apa saya lihat. Hasilnya berujung pada tanda tanya yang besar.
Could it be love? Could it be love?

Namun ternyata, bukan cinta yang menurut saya jadi masalah. Bukan dari arti apakah rasa ini cinta atau bukan? Itu gak penting! Yang penting, bagaimana saya mengendalikan hal ini, hal yang saya rasakan ini. Dan inilah bagi saya jawabannya, semuanya itu simpel, tinggal nikmatin rasa yang Allah kasih ini SENDIRIAN aja, toh kalo Allah menghendaki, saya bisa merasakan cinta itu bersama orang lain. Tapi, tentunya disaat yang tepat, disaat Allah pun menghendaki. Kalo saja suatu saat nanti saya dapat memenuhi untuk menyempurnakan setengah agama saya dengan mengaitkan tali ikatan di pelaminan, saya dapat membuat postingan yang lebih bermanfaat sambil mengaitkan postingan hari ini. Saat saya masih bingung mengartikan rasa yang saya alami.

Tuh kan, sudah saya bilang. Postingan kali ini gak penting, isinya curhat doang! hehe...



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...