Thursday, November 28, 2013

Dokter vs Masyarakat, Who Win?

Mungkin profesi ini sedang di uji oleh Tuhan. Atau ada juga yang bilang sekarang inilah era defensive medicine. Yah, apapun itu tetap membuat saya miris, kesal, marah, sedih gak karuan liat apa yang sedang terjadi di Republik Indonesia tercinta ini. 

Mulai dari artikel satu ke artikel yang lainnya yang terus saya baca ketika teman-teman saya share di facebook, acap kali membuat saya semakin sedih dan marah. Ini profesi yang sedang saya raih dan saya perjuangkan, ini profesi yang akhirnya saya pilih dengan mengesampingkan ego saya ketika saya memikirkan diri saya dapat berguna untuk orang lain dengan semaksimal mungkin, ini profesi yang akhirnya mengalahkan cita-cita saya yang sebenarnya untuk menjadi engineer. 

Kalo boleh hati nurani saya berteriak, saya ingin mundur. Ditambah dengan keadaan seperti sekarang ini, dokter dihujat habis-habisan, dicaci maki, di setarakan dengan mereka para koruptor, pembunuh dan teroris dengan menjebloskan dokter ke penjara sembari diperlakukan tidak layak. Sungguh, hati ini meringis kesakitan, melihat niat ikhlas guru-guru saya selaku dokter yang selalu menomor satukan pasien ketika mengajar, beribu kali mengingatkan kita bahwa pasien adalah prioritas utama (senyum, sapa, salam, sebut nama pasien kalau bisa dihafal) selalu terngiang-ngiang disetiap ujian OSCE. Mereka yang selalu mendahulukan pasien dibanding keluarga, sahabat, dan bahkan hubungannya dengan Tuhan karena telah terikat sumpah yang menuntut mereka untuk sepenuhnya menunaikan kewajiban terhadap pasien. Sungguh, benar-benar saya ingin mundur. 

Belum lagi, profesi ini harus berikatan dengan sumpah yang tak main-main. Dan kini, saya sudah menyerahkan diri saya untuk berjuang meraihnya dengan konsekuensi saya harus bersedia menyerahkan hidup saya untuk orang lain yang membutuhkan.

Dengan keadaan Indonesia seperti sekarang ini, membuat saya memikirkan sesuatu hal di masa mendatang. Jikalau keadaan masyarakat serta kebasan pers (yang terlalu bebas) di tanah air masih seperti sekarang ini hingga tiba waktu pengabdian saya untuk masyarakat...........saya takut.

Jujur, saya seperti pecundang yang ketakutan ...
Saya khawatir melakukan suatu tindakan, karena sepertinya semua tindakan itu bak buah simalakama
Saya khawatir tak mendapatkan orang-orang yang dapat menghargai niat saya untuk mengabdi
Saya khawatir masyarakat masih belum tahu perbedaan dokter dan Tuhan
Saya khawatir media masih bersikap semaunya tanpa memikirkan dampak luas dari segala pemberitaan yang umumnya selalu dibesar-besarkan
Saya khawatir kode etik pers masih belum diterapkan dengan benar
Saya khawatir kelak dokter masih dijadikan sebagai alat politik para penguasa
Saya khawatir aparat hukum dan masyarakat masih doyan mengkriminalisasi
Saya khawatir pemerintah tak sanggup mengayomi seluruh lapisan masyarakat dengan adil.

Ah, sudahlah saya hanya berniat menolong dimasa kelak. Karena mereka yang masih tinggal di pinggiran kota sana masih membutuhkan dokter dan saya yakin mereka faham tentang arti saling menghargai. 

Intinya saya menyadari, mungkin amarah masyarakat yang berakhir dengan segala cacian dan makian terhadap para dokter ini pasti memiliki suatu penyebab dibaliknya. Mungkin ada juga sebagian dokter yang kurang komunikatif, dan juga bersikap kurang baik (dibaca= arogan) tapi sungguh saya yakin 100% tidak semua dokter di Indonesia itu memiliki kompetensi yang buruk, tidak semua dokter bersikap arogan, bahkan banyak dokter yang memiliki hubungan bak keluarga sendiri dengan pasien-pasiennya. So please, jangan menjudge hanya dari sebagian dokter saja. Dokter dan masyarakat semuanya manusia, tempatnya salah dan dosa. Saat ini, tinggal introspeksi dan membenahi diri masing-masing. Cukuplah sudah segala perselisihan antara masyarakat dan dokter. Karena sejatinya dokter yang juga masyarakat yang bersusah payah sekolah untuk melayani masyarakat. Sudah sepantasnya saling bekerja sama. Saling menghormati, menghargai. 
Dan ini salam saya untuk Indonesia di tahun 2017.

"Selamat datang negara syurga, negara Indonesia"

Jadi, dokter vs masyarakat tak ada pemenang dan tak ada yang kalah. Karena mereka satu tim. #itiiih????

Sore Temaram , Pasca IDENT G1A0**014

5 comments:

  1. Replies
    1. Ya, tidak semuanya. 1% tidak dapat mewakili 100% toh? hehe :D Thanks udah mampir.

      Delete
  2. Saya Takut, Saya Takut, Saya Takut dan saya takut........
    Buang jauh-jauh pernytaan itu. itu hanya akan membuat dirimu terbayang-bayang terus akan rasa ketakutan dalam melangkah kedepan. karena sejatinya setiap profesi setiap tindakan pasti ada baik dan buruknya dimata orang lain. yang penting dihadapan Sang Pencipta tak akan bisa di bohongi. kuatkan niat dan azam yakinlah jika ada kemauan pasti akan ada jalan. Salam Sukses Buat Adminnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah saya bilang, saya sprti pecundang. Tapi tak dapat terelakkan bahkan ketika saya mencoba untuk menghilangkan hal tersebut ianya akan terus muncul, karena sejatinya itu fakta yang sedang terjadi sekarang, dan insyaAllah saya mencoba agar hal tersebut tak merusak langkah saya kedepan. Hanya berdo'a semoga kedepannya akan lebih baik hingga kalimat 'saya takut' tersebut hilang dari diri saya dengan sendirinya. Terimakasih sudah mampir, dan terimakasih banyak atas do'anya :D Salam sukses juga. :)

      Delete
  3. Setuju bu Dokter, masyarakat dan dokter saling membutuhkan...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...