Friday, September 6, 2013

Entah, Sulit untuk Berhenti


Melukiskan beribu angan dengan tinta merah berkarat rupanya tak menarik perhatianmu

Entah harus kubeli pena cinta dimana, hingga
kini ku rela jadikan suratmu berbau amis.
Entah harus kuhiasi dengan apa lagi. Hati yang telah terlanjur tercabik-cabik ini sudah tak laku dijual
Entah harus seindah apa paras mantan bedah plastik ini, hingga kau bisa jatuh hati
Entah harus berapa milyar harta yang harus ku korbankan untuk membuatku jatuh miskin hingga kau luluh
Entah harus berapa ensiklopedi ku lalab habis hingga kau terpesona oleh tuturku
Entah masihkah ada hal yang tersisa untukku ketika kulihat kau memilihnya

Sudah berapa kali kukatakan, aku takut ianya akan terus tumbuh merebak menyusuri relung jiwaku hingga ku sulit bernafas

Berhentilah tertawa untuknya karena rasa sesak ini tak kunjung membaik.
Berhentilah membuatku menjadi sosok orang yang teramat bodoh.
Berhentilah membuatku selalu jatuh ketika ku hendak bangkit
Berhentilah memperolok-olokku dengan berbagai gayamu
Berhentilah menjadikankku seorang idiot yang tak dapat berucap ketika berjumpa denganmu.

(F.R) Patklinik, 7 September 2013
Dalam pangkuan sinar surya dilantai hijau.

2 comments:

  1. Hm... I like the last sentence. Ijin copas bagian yang itu ya, teh.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...