Friday, July 5, 2013

Missing memory

Otakku kini menyusuri memori-memori 4 tahun ke belakang, setelah suatu rangkaian warna membentuk suatu penciptaan manusia terpaku dihadapan kedua bola mataku. Teringat akan kumpulan sebuah kisah yang lama tak kuusik. Ada suatu campuran rasa yang berkumpul menjadi satu, Ah sungguh ini bukan galau. Tapi ini rindu, saya ulangi ini bukan galau saudara-saudara.

Empat tahun yang lalu saat-saat pembuatan rencana dan projek masa depan yang gemilang. Menyusun segala strategi untuk membuatku menjadi seorang insinyur, membuat temanku menjadi presiden dan sebagainya.


Saat-saat yang kuketahui hanyalah kebahagiaan karena memiliki semua angan-angan bersama orang-orang yang kucintai. Tak pernah rasa cinta ini pudar walau sedikitpun, tapi apakah ini juga terjadi pada kalian? Aku harap kata "iya" merupakan kata yang akan kalian lontarkan. Yah, kita dahulu merupakan suatu kebersamaan yang berkelanjutan. Kurasa itu yang kupikirkan dahulu.

Menelusuri lagi semua kisah di saat itu, kutemukan satu serpihan rasa yang kurasa spesial. Mungkin hanya sahabatku di syurga yang tahu akan hal ini, oh ya dan tentunya Allah. Memikirkan kembali akan segala perbuatan yang kuperbuat dan itu kuanggap memalukan. Karena aku sendiri pun bingung, aku selalu dihadapkan pada sebuah kondisi yang mengharuskanku untuk bertindak bodoh. Mungkin itu alasan dari apa yang telah kuterima.

Menguntai semua angan, cita, dan cinta bersama kusadari bahwa akhirnya kita memiliki konsekuensi untuk mewujudkan hal tersebut, berusaha keras mendapatkan hal yang kita inginkan. Bahkan terkadang kebanyakan orang melakukan berbagai cara halal ataupun haram untuk mencapai tujuan tersebut. Tapi kita, kita tidak melakukan hal tersebut. Kita terus maju merajut semua impian, aku tahu kesemua dari kita telah disiapkan sesuatu yang terbaik. well, sebuah quotes berbunyi "All have been written, so, why worry?"

Tapi jujur saja ketika itu aku tetap khawatir, memang semua telah dituliskan. Tapi pertanyaannya siapa yang mau menuliskan jika bukan kita sendiri, inilah hidup kita. Saatnya menjadi penulis setidaknya bagi diri kita sendiri. Itu yang selalu kufikirkan. Hingga rasanya hidup sebagai arsitektur sudah sangat begitu dekat.

Tapi, Allah berkehendak lain.....

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...